13/9/2011

Image

Foto ini diambil oleh sdr. Arif Furqan dan diunggah di fotografer.net dengan judul #FNstreet. Di sanalah untuk pertama kali saya melihat foto yang saya anggap mencengangkan ini. Foto ini tetap mencengangkan bahkan setelah saya melihatnya berulang kali.

Mari kita bedah foto ini bersama-sama. Foto, seperti layaknya medium penduplikasi realita, punya dua makna, yakni tersurat dan tersirat. Makna tersurat adalah elemen atau objek apa saja yang kelihatan pada gambar.

Pada foto di atas, kita bisa melihat teralis besi yang biasanya terdapat di pertokoan. Lalu di belakangnya, sebuah gambar atau potret. Foto dalam foto itu sendiri, sudah menarik buat saya. Dalam foto di balik teralis, tampak gambar perempuan berkerudung. Di belakang sang perempuan terlihat sebuah bangunan seperti menara.

Dari segi estetika, elemen dan komposisinya begitu sederhana. Penempatan satu elemen yang menjadi ‘tokoh utama cerita’ yaitu si perempuan berkerudung mengikuti kaidah ‘Rule of thirds’. Ini turut mendukung makna kedua, yaitu makna tersirat yang mau tak mau menyeruak dari foto ini.

Lalu apa makna yang tersirat dari foto ini. Makna yang bersifat kultural atau historis buat saya, adalah tentang isu agama dan kaitannya dengan perempuan sebagai subjek (atau objek lebih tepatnya?)

Saat membahas makna tersurat, saya telah menyebutkan elemen-elemen dalam foto, dengan urutan dari depan ke belakang. Dalam makna tersirat, saya coba membahas elemen-elemennya dari belakang ke depan.

Setidaknya ada dua makna tersirat yang bisa saya lihat dalam foto ini. Yang pertama, dari menara pada latar belakang foto perempuan, mirip dengan menara Masjidil Haram di Mekkah. Kota pusat agama Islam. Kerudung,mensimbolkan perintah agama. Disini perintah tentu saja tidak terbatas pada perintah berkerudung tapi semua perintah atau aturan yang ditujukan untuk perempuan sebagai tokoh didalam foto.

Dan “punctum” atau elemen yang menusuk pikiran saya dalam makna tersirat foto ini justru berada di bagian depan, yakni teralis besi. Benda ini menyimbolkan kungkungan, sebuah kerangkeng bagi sang perempuan.

Agama, sejatinya adalah petunjuk untuk membimbing umatnya dalam koridor kebaikan, kebaikan yang terkodefikasi menurut standard agama yang bersangkutan. Agama juga menuntut umatnya untuk taat, kadang tanpa tanya. Celakanya, ketaatan tanpa tanya ini sering dimanfaatkan untuk tujuan politis. Kaitannya dengan perempuan dalam masyarakat patriarkal, kaum prialah yang memegang kendali. Kerangkeng ini menyimbolkan masyarakat ‘kebapakan’ tersebut dan interpretasi agama oleh ‘penguasa’ untuk ‘mengendalikan’ perempuan.

Adalah benar bahwa perintah agama mengalami banyak interpretasi. Contohnya soal kerudung atau jilbab. Dari Kordoba, Afrika Utara, Jazirah Mesopotamia, Hindustan, hingga Asia, aplikasi kerudung punya banyak varian. Dari shayla yang relatif longgar (seperti yang dipakai perempuan dalam gambar) hingga Niqab atau Burka yang tertutup. Namun interpretasi-interpretasi ini ditentukan oleh ulama-ulama yang mayoritas pria. Padahal ia untuk kepentingan perempuan.

Disinilah ‘otorisasi’ teralis besi ditedengkan, tepat di muka sang perempuan. Kadang begitu keras bak besi sehingga pada negara atau tempat yang relatif ketat, perlu polisi susila yang mengatur perempuan bersikap.

Elemen-elemen foto yang kita bahas juga punya makna tersirat yang lain. Jika sebelumnya saya mengupasnya dari sisi interpretasi oleh pemimpin patriarkal, kali ini saya mencoba mengupas dari sisi perempuan sendiri.

Makna tersirat kedua yaitu simbolisasinya sebagai persepsi perempuan atas dirinya terhadap agama/perintah agama sebagai identitas, serta persepsi ‘pihak luar’.

Di dunia muslim kontemporer, salah satu isu yang mencuat adalah isu penempatan dirinya (positioning) dalam komunitas modern. Kaum muslimin saat ini dihadapkan dengan persoalan pencarian identitas. Siapakah dirinya dan bagaimana ia menempatkan diri di dunia modern ini? Bagaimana ia memandang tradisi Islamnya dalam dunia modern dan global? Isu ini makin menguat setelah peristiwa 11 September, sehingga foto ini juga turut menguat konteksnya untuk saat ini.

Tarik-menarik yang menjadi pergulatan dalam dunia kontemporer, sebagai pembuka atas interpretasi kedua dalam pembahasan ini. Memang benar isu pergulatan identitas ini diderita baik oleh laki-laki dan perempuan. Namun penderitaan lebih dirasai oleh perempuan, sebab atribut Islam begitu tampak di mata orang lain (disebabkan kewajibannya untuk berkerudung). Sementara busana tidak terlalu mengganggu untuk kaum laki.

Kaum laki bisa secara klandestin berbaur dengan masyarakat majemuk tanpa ada penempelan atribut berarti, kecuali mereka memang mengutarakannya. Sementara perempuan yang ‘taat’, mengalami hal ini. Di sini, perempuan muslim dihadapkan pada tarik-menarik antara tradisi berhijab, dan posisinya di masyarakat, serta bagaimana ia menyikapi dirinya.

Gambar perempuan berkerudung mensimbolkan identitas, tradisi. Kita sebagai penikmat foto berperan sebagai mata dunia, si ‘pihak luar’ yang memandang perempuan muslim di balik teralis besi perbedaan persepsi dan tradisi.

Pada interpretasi makna tersirat kedua ini, teralis besi menyimbolkan ‘tumbukan budaya’, perbedaan cara pandang dan tradisi. Si perempuan adalah tesis, pembaca adalah antitesis dan teralis besi sebagai sintesis.

Mata perempuan yang melihat langsung ke kita yang menontonnya juga seolah balik bertanya, “bagaimana kamu wahai penonton, melihat diriku dan identitasku di balik ini?”

Jadi, pada interpretasi makna tersirat pertama, teralis besi menyimbolkan otorisasi terhadap diri sang subjek/tokoh. Sedangkan pada interpretasi kedua, teralis disimbolkan sebagai sebuah sintesa atau dialektika, tarik-menarik (kalau saya boleh menyebutnya begitu) antara tokoh, tradisi, dan ‘penonton’. Sementara untuk elemen-elemen lain punya makna tetap. Tampaknya, baru dua interpretasi saja yang saya temukan atas foto sdr Arif Furqon tersebut.

 

Tulisan juga diikut sertakan dalam Lomba Apresiasi Foto : Gaji Pertama Award

Advertisements

9/9/2012

marysats

Foto ini diambil oleh Marrysa Tunjung Sari.

Di dalam foto terlihat seorang perempuan tertunduk yang tampaknya (mungkin) sedang sibuk dengan telepon genggamnya. Di belakangnya terdapat latar tembok berpintu dengan gambar seorang citra siluet perempuan seolah “menggantung”, sedang membawa tas yang tampaknya sekelompok tas belanjaan.

Dalam imajinasi penulis, postur yang digambarkan citra siluet hitam tersebut tampak seperti tergantung di tiang gantungan. Ada dua persepsi yang menari dalam otak. Citra siluet tersebut menunduk dengan tangannya menjuntai ke bawah, ke depan tubuh sambil memegangi tas belanjaannya, atau yang kedua; kepalannya mendongak tertarik ke atas sehingga badannya membusung dan tangannya menjuntai tertarik ke belakang. Apapun, kedua persepsi menampakkan bahwa citra siluet, “mati” di tiang gantungan, sudah tak bernyawa. Sementara di depan, perempuan yang masih hidup seolah tak acuh akan nasib perempuan di belakangnya.

Sementara tas belanjaan yang menjuntai di tubuh tak bernyawa mau tak mau membawa penulis ke konsumerisme yang menggejala di masyarakat. Suatu gaya hidup yg menganggap barang-barang (mewah) sbg ukuran kebahagiaan, kesenangan, dsb[1].

Konsumerisme itu telah menjerat citra perempuan di belakang, menjerat lehernya hingga mati, menggantung di tiang gantungan. Walau begitu, citra tersebut masih tak mau melepaskan kantung belanjaannya. Jerat yang mengerikan, karena ketika korban sudah tercekikpun atau bahkan sudah mencapai titik ajal, ia tetap tak mau melepaskan sesuatu yang malah membunuhnya.

Lebih gawatnya lagi, konsumerisme ini kadang tidak disadari oleh si korban sampai sudah terlambat. Hal itu yang terbaca di perempuan yang masih hidup. Ia tak sadar, tidak acuh, dia hanya memfokuskan diri ke sesuatu di tangannya hingga tak sadar temannya, sesama ‘citra’ perempuan, sudah mati terbunuh konsumerisme, bisa jadi, perempuan di depan itu, -mari kita doakan semoga tidak-, adalah korban berikut dari jeratan tas-tas belanja.

[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia daring