#JKTtanpaorang #mblegadhus #mblakrak oleh Ichwan Susanto

12-10-2012 12-40-18 PM

Foto ini diambil oleh Ichwan Susanto

Sebenarnya tidak ada yang bisa penulis ceritakan banyak disini tapi menurut penulis foto ini ‘menggugah’, dalam artian foto ini secara spontan membuat otak penulis merasa ‘tergelitik’ saat pertama kali melihatnya dan mendorong penulis untuk, maaf, mengumpat secara otomatis. Spontanitas emosi yang ditimbulkan oleh foto ini lalu mendorong penulis untuk mencoba membagi kenapa foto ini bisa mempunyai, dalam vocabulary a la Barthesian, suatu punctum.

Foto ini mempunyai beberapa elemen yang bisa dilihat; Gambar grafitti orang menunduk, kumpulan karung dan plastik sampah berlatar tembok biru lalu tulisan graffiti ‘Berjilbab Agamis apa modis’

Mari lihat gambar orang menunduk terlebih dahulu, kepala menunduk tanpa terlihat wajah, ubun-ubun kepala digambarkan terlihat terkena seberkas cahaya dan dua tangan menutup muka.

Sekarang, mari berjalan ke bawah, ke satu karung plastik putih dengan kantung plastik hitam dan ditutup/ditahan batu. Perhatikan dua komponen gambar tersebut, lihat persamaannya? Kepala, badan lalu menuju ke kaki, bertemu batu, kantung plastik hitam dan karung putih. Lihat warnanya? Lihat pengulangannya?

Ubun-ubun dalam gambar berwarna abu-abu, lalu kepala berambut hitam yang bulat, lalu ke tangan yang terlipat, lalu badan serta dua kaki. Kesemuanya seolah mengalami pengulangan pada tumpukan batu, plastik dan karung. Pengulangannya pada batu abu-abu, kantung plastik hitam bulat, lipatan karung serta dua garis karung tersebut.

Interpretasi lain yang mungkin bisa langsung dilihat adalah orang itu menunduk di hadapan karung dan bungkus plastik yang nampaknya seperti sampah, lalu ada tulisan tersebut ‘Berjilbab Agamis apa modis’, seolah orang itu merasa tak berharap lagi terhadap tumpukan-tumpukan sampah atau juga terhadap fenomena mode yang memang nyata terjadi sekarang ini mengenai ‘pakaian takwa’ atau Jilbab. Saat ini, jilbab sudah mengalami, entah peyorasi atau ameliorasi, yang pasti pergeseran makna, dari pakaian penanda ketakwaan menjadi pernyataan mode.

Jilbab yang dahulu sederhana, selembar kain dilipat segitiga lalu sekarang, berkain-kain, tidak satu, dua bahkan tiga ditumpuk, dilibat dan dililit agar terkesan modis. Pertanyaannya, apakah cara itu agamis atau modis? Apakah modis selalu bertentangan dengan agamis? Tidak bisakah keduanya berjalan beriringan?

Bukan kapasitas penulis untuk menghakimi hal-hal tersebut namun menurut hemat penulis, kesan sederhana yang mana adalah nilai agamis menjadi kabur ketika digunakan lebih dari satu atau dua kain. Dan lagi, tujuan jilbab adalah untuk tidak ‘bersolek’ (menundukkan pandangan) sementara dengan kemodisannya jilbab tersebut malah membuat penggunanya bersolek dengan sangat mencolok. Bukan berarti bersolek tidak baik tapi kesan yang ditimbulkan malah ‘wagu’ dalam term bahasa Jawa. Mungkin lebih jelasnya penulis akan mengutip pernyataan seorang kawan untuk menerangkan maksud penulis: “Jadi malah kayak topi petani dikasih bunga”

Komponen-komponen yang tersebar di tiap sudut gambar, repetisi komponen secara abstrak dan  pesan yang mungkin tersirat dari foto ini yang menurut penulis layak diacungi jempol, terlepas sang pengambil gambar saat eksekusi di lapangan juga memikirkan buah-buah pikiran yang sama seperti penulis ketika melihat scene ini.