Thanatos

1 April lalu, Invisible photographer Asia mengumumkan “The Most Retweeted Photo Essay this week: Kodokushi: Apartments of Lonely Deaths in Tokyo, by Soichiro Koriyama.” Photo essay itu menceritakan tentang kasus kematian orang-orang yang hidup sendirian di tempat tinggalnya dan kematiannya baru ketahuan lama kemudian.

Yang menarik dari pengumuman ini adalah, jumlah orang yang me retweet photo essay ini (755 like di FB, 239 RT per tanggal 3 April 2014), kasus ini membuat penulis bertanya tentang kematian. Sepertinya manusia memang tertarik kepada mortalitas/kefanaan mereka sendiri. Sehingga cerita yang bersangkutan dengan kematian punya banyak peminat.

Dalam teori Audience receptionnya Stuart Hall, kedekatan kultural mempengaruhi transmisi pesan. Singkat kata, seseorang akan memahami pesan dari yang lain jika pihak yang terlibat punya kedekatan kultural satu sama lain. Lalu, apakah yang paling mengikat setiap manusia kecuali kematian?

Foto essay yang bercerita tentang perjuangan hidup penderita kanker misalnya, memang itu mengajarkan harapan dan perjuangan. Dua unsur yang juga mengikat tiap manusia namun dibalik itu ada kematian yang mengintai. Itu adalah cerita tentang kefanaan manusia. Tidak apa-apa untuk merasa lemah. Tidak mengapa untuk sakit. Toh, kita bukan dewa yang abadi.

Mungkin kita hanya lelah dengan tuntutan zaman yang mengharuskan kita dan “citra” kita terlihat sempurna sehingga cerita-cerita tentang kefanaan ini adalah semacam eskapisme, atau rehat dari kepenatan duniawi kita.

Tema kematian ini juga punya berbagai macam bentuk, tidak harus tentang perginya roh atau kehidupan dari raga yang diungkapkan secara eksplisit. Dia hadir juga dalam berbagai bentuk yang mencerminkan kefanaan, desolation, pemberhentian terakhir, kehancuran, pembuangan.

Contohnya Risky Ramadhan, yang tertarik dengan rongsokan mobil di seri ini, penulis tertarik derngan rangkaian foto yang dihadirkan karena mobil-mobil itu sudah tidak terpakai, mati dan dibuang. FaNa.

Namun sebenarnya kematian bukanlah semata tentang kehancuran atau perhentian abadi.
Beda dengan mahluk unisel yang terus membelah diri “lahir terus tidak mati-mati”, mahluk multisel memakai mekanisme kematian untuk mendaur ulang dirinya agar bisa dipakai oleh keturunannya karena bumi tempat tinggal mereka sendiri terbatas.

Kematian adalah mekanisme alam untuk memberi ruang bagi yang hidup. jadi pada hakikatnya, kematian adalah hidup itu sendiri

 

DSCN3515_20[1]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s