Jangan langsung percaya sama foto!

Sekarang beredar foto viral tentang ‘pengadilan rakyat’ terhadap pemimpin korup.
Diklaim terjadi di Maranhao, Brazil, politikus korup yang lolos dari pengadilan umum membuat rakyat marah dan memutuskan melakukan pengadilan jalanan. Si Politikus dibekuk dan diikat di tiang di ruang terbuka.

Image

 

Buat kita orang Indonesia yang membaca atau melihat foto itu lalu secara otomatis mengkaitkan dengan salah satu politikus negeri yang bersumpah untuk digantung di monas jika terbukti korupsi. Lalu berangan-angan, coba itu juga berlaku di sini.

Masalahnya, benarkah foto-foto yang keburu beredar secara viral itu?

Usut punya usut ternyata foto itu tidak diambil di Brazil, melainkan dari Australia dan itu merupakan marketing campaign atau iklan perusahaan finansial di negara itu.

Dan jika ditelisik lebih lanjut, penyebar foto “hoax” itu adalah situs G17 yang memang resmi menyatakan situsnya adalah situs humor dan foto beserta berita itu sudah ada di situs mereka sejak Maret 2013!

Makanya, jangan selalu percaya semua yang ada di internet, bahkan tulisan ini :p

Sebenarnya sudah banyak kasus beredar foto2 yg dicerabut dari context aslinya lalu dipaksakan masuk ke context lain. Belum lama ini ada kasus bocah yatim Syria yang ternyata hoax. Di foto tersebut ada anak tidur diantara dua kubur batu yang dianggap kuburan orang tuanya yang tewas dalam konflik di Syria. Foto itu tentu mengundang simpati dan keprihatinan atas apa yang terjadi di Syria. Cuman masalahnya, ternyata foto itu bukan diambil di Syria, bocah itu bukan seorang yatim dan itu adalah foto konsep.

Fotografer Arab Saudi, Abdul Azis Al-Otaibi sedang membuat konsep foto tentang hubungan anak dengan orang tuanya. Dia membuat panggung itu dan menjadikan keponakannya sebagai aktor anak dalam foto. Ketika dia tahu fotonya dipakai untuk propaganda yang diluar maksudnya, dia uring-uringan dan mengontak penyebar pertama. Dia dapat jawaban kurang ajar yang kurang lebih begini: “Udah lah, kenapa ga kamu sebut aja fotomu itu dari Syria biar kamu dapat pahala. Kamu lebay deh”.

Apa yang terjadi pada tahun 1951 malah lebih kurang ajar lagi. Sebuah foto yang tersebar di media AS telah menggagalkan Senator Millard Tydings untuk terpilih kembali di kursi senat. Gara-garanya dalam foto itu, Tydings ketangkap basah sedang bercakap-cakap dengan tokoh pemimpin komunis Earl Browder. Foto itu bukan tercerabut dari context, malah lebih parah lagi, foto itu adalah komposit atau foto montase.

ImageImage

 

Seperti kita ketahui, foto adalah kopian dari realita, istilahnya analogon. Atau icon. Berbeda dengan lukisan, apa-apa yang ada di foto sudah bisa diasumsikan itu juga ada di dunia nyata. Jika melihat ada gajah warna pink di foto maka sudah barang tentu ada bendanya di dunia nyata. makanya disebut ‘pesan tanpa kode’. Gajah pink ya gajah pink, bukan hasil khayalan pelukis surealis yang dituangkan ke atas kanvas yang punya makna atau kode tertentu.

Kekuatan foto untuk menyampaikan realita terbukti pada kasus foto Nsala dari Wala yang diambil oleh Alice Harris di Congo. Ceritanya, Charles Goodyear baru saja menemukan teknik vulkanisir karet pada tahun 1839. Temuannya ini membuat industri perkebunan karet booming karena karet sekarang menjadi komoditas penting di industri otomotif. Raja Leopold II dari Belgium melihatnya sebagai kesempatan untuk memajukan negaranya. Dan seperti kebanyakan pemimpin Eropa abad 19, dia melakukannya dengan menjajah bangsa lain, Congo dan perkebunan karetnya dari tahun 1885 hingga 1908.

Bayangkan cuturestelselnya Van den Bosch di Indonesia, rakyat harus memenuhi kuota tertentu dan bakal mendapat hukuman berat kalau kuota tidak terpenuhi. Mirip-mirip itulah yang terjadi di Congo.
Sudah banyak jurnalis yang berupaya memberitakan kezaliman penjajah Leopold yang terjadi di Congo, Joseph Conrad bahkan menuliskannya dalam novel, Heart of Darkness. Akan tetapi Raja berhasil menyumpal mulut media dengan uangnya sampai suatu hari, Nsala dari Wala datang ke misionaris Inggris, Alice Harris membawa potongan tangan dan kaki anak perempuannya yang berumur 5 tahun, yang dibunuh milisi ABIR. Anglo-Belgian Indian Rubber Company.

Foto-foto yang diambil Alice, akhirnya membuat Leopold kalah dalam perang media dan kehilangan Congo. Mark Twain mengabadikannya dalam pamflet “King Leopold’s Soliloquy“ dimana raja mengeluhkan bahwasanya hanya kamera Kodak sajalah, satu-satunya saksi di sepengalaman hidupnya yang  tidak bisa ia suap.

Image

begitulah letak kekuatan foto.Cuman disitulah juga letak masalahnya. Foto jadi seperti pisau bermata dua. Tidak hati-hati menyikapinya kita bakal terlukai, setidaknya dipermalukan atau ikut menyebar berita hoax.

 

tautan:

Advertisements