Foto Portrait Sivan Lewin dan Las Meninas, sebuah pelajaran dari WakBet Cahaya Asia

Ketika pertama kali dikenalkan oleh Las Meninas yang dilukis oleh Diego Velazquez, saya kurang begitu paham, dimana letak ‘kontroversialnya’. Penggunaan kata kontroversial disini terlalu kuat. Lebih tepatnya, lukisan itu melanggar aturan yang berlaku di saat itu.

540px-Las_Meninas_(1656),_by_Velazquez

Pada Las Meninas, terlihat sosok utama adalah Infanta Margarita Teresa yang dikelilingi oleh Las Meninas (The Maids of Honor) dilukis oleh Velazquez. Tapi yang janggal, Velazquez justru ada di dalam lukisan itu. Lalu, siapa yang melukis?

Terus apa anehnya? Toh beberapa pelukis juga sering menempelkan wajah mereka di scene lukisan mereka -bukan dalam bentuk potret diri. Caravaggio misalnya, dalam lukisan ‘The Taking of Christ’ juga melukis dirinya memegang lentera saat Judas mencium Yesus sebagai tanda bagi dua prajurit untuk menangkapnya. Saya gagal melihat lapisan makna dibawahnya sampai suatu ketika, WakBet Cahaya Asia (thanks, WakBet) mengirimkan gambar yang bikin grup terong sumuk jadi tambah sumuk.

Sivan_Lewin

Bagi yang telah melihat Las Meninas, jika melihat foto keluarga yang diambil oleh Sivan Lewin ini, langsung terbersit dalam pikirannya kalau foto ini terilhami oleh lukisan tersebut. Foto anak yang jongkok bisa kita asosiasikan ke Infanta Margarita Teresa. Gadis yang berdiri, mengisi posisi Isabel de Velasco. Laki-laki dibelakang pintu mengisi posisi Jose Nieto Velazquez (bukan saudara Diego, kebetulan saja namanya yang sama). Cermin di latar belakang, terlihat dua orang tua, yang lalu bisa kita asumsikan, “by connecting the dots”, adalah orang tua dari anak-anak itu. Dan bila melihat Las Meninas lagi, berarti dua orang itu adalah pengganti figur Raja dan Ratu Spanyol saat itu, Philip IV dan Marianna (atau Maria Ana) dari Austria. Sementara, anak laki-laki yang memegang trigger TLR adalah don Diego Velazquez sendiri, yang mengambil gambar/yang melukis. Seperti ada relasi satu ke satu di antara tokoh-tokoh dalam gambar, walaupun beberapa karakter lain dalam lukisan dihilangkan.

Namun, menariknya, yang dipertanyakan dalam Las Meninas maupun foto Portrait Sivan, juga ditanyakan oleh para (lelaki) anggota grup terong sumuk penggemar Chef Farah tersebut. Itu ngambil gambarnya gimana ya? Pakai apa ya? Cerminnya satu atau dua atau tiga? Siapa yang ambil gambar? TLR itu yang dipakai atau ada kamera lain? Hipotesa-hipotesa lalu disemburkan tentang bagaimana gambar itu diambil.

Lalu, sedikit banyak saya jadi paham mengapa Las Meninas menjadi ‘kontroversi’. Saya, dengan egois, telah melihat Las Meninas dari konteks saya pribadi. Dari linimasa saya sendiri, yaitu masa kini. Namun ketika konten yang sama dihadirkan dengan konteks yang sesuai zaman saya, menggunakan foto yang mana adalah produk zaman saya alih-alih lukisan, maka saya bisa menangkap ke-kontroversian Las Meninas.

Selain itu, saya hanya melihat Las Meninas melalui foto-foto video atau artikel internet yang mana aslinya,  lukisannya berdimensi besar (3 meter x 2 meter), maka tentu saja ketika melihat Las meninas ‘versi jpg’ ada distorsi visual. ‘Ilusi’ itu yang tidak saya tangkap di versi kopian dari lukisan. Namun efek ilusi itu dihadirkan kembali ketika medium yang digunakan, cocok untuk mempresentasikan problem visual tersebut dengan ukuran yang lebih kecil, yaitu foto digital.

Pelajaran yang bisa saya ambil dari peristiwa ini adalah bahwasanya kita memang seringkali terlalu egois, hanya bisa melihat suatu teks/problematika dari sudut pandang kita sendiri saja. Kita seringkali mencabut konteks dari suatu teks lalu menggunakan teks tersebut semau-mau kita sendiri.

Tapi apa itu salah? Bisa jadi tidak, seperti saya yang tidak bisa melihat versi original Las Meninas, prejudis yang kita berikan pada sebuah permasalahan bisa jadi karena kekurangan informasi yang kita punyai untuk menyikapi masalah tersebut.

thus, for what we see is what we are – Ernst Haas

NB: setelah ‘lapisan konotatif’ terkuak, pembahasan Las Meninas dan Foto Portrait jadi lebih filosofis. Tentang konsep ‘Aku’. Siapakah ‘Aku’ itu? Tentang siapakah yang diceritakan dalam kedua gambar itu, baik dalam Las Meninas ataupun foto portrait Lewin. Tapi itu pembahasan di arisan saja karena kompleks dan rasanya saya juga belum sanggup untuk membuat artikelnya, tapi sedikit banyak terangkum dari kutipan Haas tersebut.
Bagi yang ingin mendalami lebih lanjut bisa coba membaca tulisan John R. Searle, Las Meninas and the Paradoxical of Pictorial Representation, tersedia di scribd.

Advertisements

One thought on “Foto Portrait Sivan Lewin dan Las Meninas, sebuah pelajaran dari WakBet Cahaya Asia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s