Foto Portrait Sivan Lewin dan Las Meninas, sebuah pelajaran dari WakBet Cahaya Asia

Ketika pertama kali dikenalkan oleh Las Meninas yang dilukis oleh Diego Velazquez, saya kurang begitu paham, dimana letak ‘kontroversialnya’. Penggunaan kata kontroversial disini terlalu kuat. Lebih tepatnya, lukisan itu melanggar aturan yang berlaku di saat itu.

540px-Las_Meninas_(1656),_by_Velazquez

Pada Las Meninas, terlihat sosok utama adalah Infanta Margarita Teresa yang dikelilingi oleh Las Meninas (The Maids of Honor) dilukis oleh Velazquez. Tapi yang janggal, Velazquez justru ada di dalam lukisan itu. Lalu, siapa yang melukis?

Terus apa anehnya? Toh beberapa pelukis juga sering menempelkan wajah mereka di scene lukisan mereka -bukan dalam bentuk potret diri. Caravaggio misalnya, dalam lukisan ‘The Taking of Christ’ juga melukis dirinya memegang lentera saat Judas mencium Yesus sebagai tanda bagi dua prajurit untuk menangkapnya. Saya gagal melihat lapisan makna dibawahnya sampai suatu ketika, WakBet Cahaya Asia (thanks, WakBet) mengirimkan gambar yang bikin grup terong sumuk jadi tambah sumuk.

Sivan_Lewin

Bagi yang telah melihat Las Meninas, jika melihat foto keluarga yang diambil oleh Sivan Lewin ini, langsung terbersit dalam pikirannya kalau foto ini terilhami oleh lukisan tersebut. Foto anak yang jongkok bisa kita asosiasikan ke Infanta Margarita Teresa. Gadis yang berdiri, mengisi posisi Isabel de Velasco. Laki-laki dibelakang pintu mengisi posisi Jose Nieto Velazquez (bukan saudara Diego, kebetulan saja namanya yang sama). Cermin di latar belakang, terlihat dua orang tua, yang lalu bisa kita asumsikan, “by connecting the dots”, adalah orang tua dari anak-anak itu. Dan bila melihat Las Meninas lagi, berarti dua orang itu adalah pengganti figur Raja dan Ratu Spanyol saat itu, Philip IV dan Marianna (atau Maria Ana) dari Austria. Sementara, anak laki-laki yang memegang trigger TLR adalah don Diego Velazquez sendiri, yang mengambil gambar/yang melukis. Seperti ada relasi satu ke satu di antara tokoh-tokoh dalam gambar, walaupun beberapa karakter lain dalam lukisan dihilangkan.

Namun, menariknya, yang dipertanyakan dalam Las Meninas maupun foto Portrait Sivan, juga ditanyakan oleh para (lelaki) anggota grup terong sumuk penggemar Chef Farah tersebut. Itu ngambil gambarnya gimana ya? Pakai apa ya? Cerminnya satu atau dua atau tiga? Siapa yang ambil gambar? TLR itu yang dipakai atau ada kamera lain? Hipotesa-hipotesa lalu disemburkan tentang bagaimana gambar itu diambil.

Lalu, sedikit banyak saya jadi paham mengapa Las Meninas menjadi ‘kontroversi’. Saya, dengan egois, telah melihat Las Meninas dari konteks saya pribadi. Dari linimasa saya sendiri, yaitu masa kini. Namun ketika konten yang sama dihadirkan dengan konteks yang sesuai zaman saya, menggunakan foto yang mana adalah produk zaman saya alih-alih lukisan, maka saya bisa menangkap ke-kontroversian Las Meninas.

Selain itu, saya hanya melihat Las Meninas melalui foto-foto video atau artikel internet yang mana aslinya,  lukisannya berdimensi besar (3 meter x 2 meter), maka tentu saja ketika melihat Las meninas ‘versi jpg’ ada distorsi visual. ‘Ilusi’ itu yang tidak saya tangkap di versi kopian dari lukisan. Namun efek ilusi itu dihadirkan kembali ketika medium yang digunakan, cocok untuk mempresentasikan problem visual tersebut dengan ukuran yang lebih kecil, yaitu foto digital.

Pelajaran yang bisa saya ambil dari peristiwa ini adalah bahwasanya kita memang seringkali terlalu egois, hanya bisa melihat suatu teks/problematika dari sudut pandang kita sendiri saja. Kita seringkali mencabut konteks dari suatu teks lalu menggunakan teks tersebut semau-mau kita sendiri.

Tapi apa itu salah? Bisa jadi tidak, seperti saya yang tidak bisa melihat versi original Las Meninas, prejudis yang kita berikan pada sebuah permasalahan bisa jadi karena kekurangan informasi yang kita punyai untuk menyikapi masalah tersebut.

thus, for what we see is what we are – Ernst Haas

NB: setelah ‘lapisan konotatif’ terkuak, pembahasan Las Meninas dan Foto Portrait jadi lebih filosofis. Tentang konsep ‘Aku’. Siapakah ‘Aku’ itu? Tentang siapakah yang diceritakan dalam kedua gambar itu, baik dalam Las Meninas ataupun foto portrait Lewin. Tapi itu pembahasan di arisan saja karena kompleks dan rasanya saya juga belum sanggup untuk membuat artikelnya, tapi sedikit banyak terangkum dari kutipan Haas tersebut.
Bagi yang ingin mendalami lebih lanjut bisa coba membaca tulisan John R. Searle, Las Meninas and the Paradoxical of Pictorial Representation, tersedia di scribd.

Jangan langsung percaya sama foto!

Sekarang beredar foto viral tentang ‘pengadilan rakyat’ terhadap pemimpin korup.
Diklaim terjadi di Maranhao, Brazil, politikus korup yang lolos dari pengadilan umum membuat rakyat marah dan memutuskan melakukan pengadilan jalanan. Si Politikus dibekuk dan diikat di tiang di ruang terbuka.

Image

 

Buat kita orang Indonesia yang membaca atau melihat foto itu lalu secara otomatis mengkaitkan dengan salah satu politikus negeri yang bersumpah untuk digantung di monas jika terbukti korupsi. Lalu berangan-angan, coba itu juga berlaku di sini.

Masalahnya, benarkah foto-foto yang keburu beredar secara viral itu?

Usut punya usut ternyata foto itu tidak diambil di Brazil, melainkan dari Australia dan itu merupakan marketing campaign atau iklan perusahaan finansial di negara itu.

Dan jika ditelisik lebih lanjut, penyebar foto “hoax” itu adalah situs G17 yang memang resmi menyatakan situsnya adalah situs humor dan foto beserta berita itu sudah ada di situs mereka sejak Maret 2013!

Makanya, jangan selalu percaya semua yang ada di internet, bahkan tulisan ini :p

Sebenarnya sudah banyak kasus beredar foto2 yg dicerabut dari context aslinya lalu dipaksakan masuk ke context lain. Belum lama ini ada kasus bocah yatim Syria yang ternyata hoax. Di foto tersebut ada anak tidur diantara dua kubur batu yang dianggap kuburan orang tuanya yang tewas dalam konflik di Syria. Foto itu tentu mengundang simpati dan keprihatinan atas apa yang terjadi di Syria. Cuman masalahnya, ternyata foto itu bukan diambil di Syria, bocah itu bukan seorang yatim dan itu adalah foto konsep.

Fotografer Arab Saudi, Abdul Azis Al-Otaibi sedang membuat konsep foto tentang hubungan anak dengan orang tuanya. Dia membuat panggung itu dan menjadikan keponakannya sebagai aktor anak dalam foto. Ketika dia tahu fotonya dipakai untuk propaganda yang diluar maksudnya, dia uring-uringan dan mengontak penyebar pertama. Dia dapat jawaban kurang ajar yang kurang lebih begini: “Udah lah, kenapa ga kamu sebut aja fotomu itu dari Syria biar kamu dapat pahala. Kamu lebay deh”.

Apa yang terjadi pada tahun 1951 malah lebih kurang ajar lagi. Sebuah foto yang tersebar di media AS telah menggagalkan Senator Millard Tydings untuk terpilih kembali di kursi senat. Gara-garanya dalam foto itu, Tydings ketangkap basah sedang bercakap-cakap dengan tokoh pemimpin komunis Earl Browder. Foto itu bukan tercerabut dari context, malah lebih parah lagi, foto itu adalah komposit atau foto montase.

ImageImage

 

Seperti kita ketahui, foto adalah kopian dari realita, istilahnya analogon. Atau icon. Berbeda dengan lukisan, apa-apa yang ada di foto sudah bisa diasumsikan itu juga ada di dunia nyata. Jika melihat ada gajah warna pink di foto maka sudah barang tentu ada bendanya di dunia nyata. makanya disebut ‘pesan tanpa kode’. Gajah pink ya gajah pink, bukan hasil khayalan pelukis surealis yang dituangkan ke atas kanvas yang punya makna atau kode tertentu.

Kekuatan foto untuk menyampaikan realita terbukti pada kasus foto Nsala dari Wala yang diambil oleh Alice Harris di Congo. Ceritanya, Charles Goodyear baru saja menemukan teknik vulkanisir karet pada tahun 1839. Temuannya ini membuat industri perkebunan karet booming karena karet sekarang menjadi komoditas penting di industri otomotif. Raja Leopold II dari Belgium melihatnya sebagai kesempatan untuk memajukan negaranya. Dan seperti kebanyakan pemimpin Eropa abad 19, dia melakukannya dengan menjajah bangsa lain, Congo dan perkebunan karetnya dari tahun 1885 hingga 1908.

Bayangkan cuturestelselnya Van den Bosch di Indonesia, rakyat harus memenuhi kuota tertentu dan bakal mendapat hukuman berat kalau kuota tidak terpenuhi. Mirip-mirip itulah yang terjadi di Congo.
Sudah banyak jurnalis yang berupaya memberitakan kezaliman penjajah Leopold yang terjadi di Congo, Joseph Conrad bahkan menuliskannya dalam novel, Heart of Darkness. Akan tetapi Raja berhasil menyumpal mulut media dengan uangnya sampai suatu hari, Nsala dari Wala datang ke misionaris Inggris, Alice Harris membawa potongan tangan dan kaki anak perempuannya yang berumur 5 tahun, yang dibunuh milisi ABIR. Anglo-Belgian Indian Rubber Company.

Foto-foto yang diambil Alice, akhirnya membuat Leopold kalah dalam perang media dan kehilangan Congo. Mark Twain mengabadikannya dalam pamflet “King Leopold’s Soliloquy“ dimana raja mengeluhkan bahwasanya hanya kamera Kodak sajalah, satu-satunya saksi di sepengalaman hidupnya yang  tidak bisa ia suap.

Image

begitulah letak kekuatan foto.Cuman disitulah juga letak masalahnya. Foto jadi seperti pisau bermata dua. Tidak hati-hati menyikapinya kita bakal terlukai, setidaknya dipermalukan atau ikut menyebar berita hoax.

 

tautan:

Thanatos

1 April lalu, Invisible photographer Asia mengumumkan “The Most Retweeted Photo Essay this week: Kodokushi: Apartments of Lonely Deaths in Tokyo, by Soichiro Koriyama.” Photo essay itu menceritakan tentang kasus kematian orang-orang yang hidup sendirian di tempat tinggalnya dan kematiannya baru ketahuan lama kemudian.

Yang menarik dari pengumuman ini adalah, jumlah orang yang me retweet photo essay ini (755 like di FB, 239 RT per tanggal 3 April 2014), kasus ini membuat penulis bertanya tentang kematian. Sepertinya manusia memang tertarik kepada mortalitas/kefanaan mereka sendiri. Sehingga cerita yang bersangkutan dengan kematian punya banyak peminat.

Dalam teori Audience receptionnya Stuart Hall, kedekatan kultural mempengaruhi transmisi pesan. Singkat kata, seseorang akan memahami pesan dari yang lain jika pihak yang terlibat punya kedekatan kultural satu sama lain. Lalu, apakah yang paling mengikat setiap manusia kecuali kematian?

Foto essay yang bercerita tentang perjuangan hidup penderita kanker misalnya, memang itu mengajarkan harapan dan perjuangan. Dua unsur yang juga mengikat tiap manusia namun dibalik itu ada kematian yang mengintai. Itu adalah cerita tentang kefanaan manusia. Tidak apa-apa untuk merasa lemah. Tidak mengapa untuk sakit. Toh, kita bukan dewa yang abadi.

Mungkin kita hanya lelah dengan tuntutan zaman yang mengharuskan kita dan “citra” kita terlihat sempurna sehingga cerita-cerita tentang kefanaan ini adalah semacam eskapisme, atau rehat dari kepenatan duniawi kita.

Tema kematian ini juga punya berbagai macam bentuk, tidak harus tentang perginya roh atau kehidupan dari raga yang diungkapkan secara eksplisit. Dia hadir juga dalam berbagai bentuk yang mencerminkan kefanaan, desolation, pemberhentian terakhir, kehancuran, pembuangan.

Contohnya Risky Ramadhan, yang tertarik dengan rongsokan mobil di seri ini, penulis tertarik derngan rangkaian foto yang dihadirkan karena mobil-mobil itu sudah tidak terpakai, mati dan dibuang. FaNa.

Namun sebenarnya kematian bukanlah semata tentang kehancuran atau perhentian abadi.
Beda dengan mahluk unisel yang terus membelah diri “lahir terus tidak mati-mati”, mahluk multisel memakai mekanisme kematian untuk mendaur ulang dirinya agar bisa dipakai oleh keturunannya karena bumi tempat tinggal mereka sendiri terbatas.

Kematian adalah mekanisme alam untuk memberi ruang bagi yang hidup. jadi pada hakikatnya, kematian adalah hidup itu sendiri

 

DSCN3515_20[1]

Untitled

tumblr_mfwcur8i6G1r373n2o1_1280[1]

Menurut hemat penulis, Salah satu jenis foto yang paling enak diinterpretasikan adalah foto yang mengandung simbol agama. Mungkin karena latar sejarah agama yang begitu panjang, setua umur manusia itu sendiri sehingga ketika menginterpretasikan simbol-simbol tersebut rasanya mengalir saja seperti bercerita tentang sejarah.

Agama lahir bersama manusia. Entah itu pagan, samawi, terorganisir/terlembaga maupun tradisi.
Agama juga adalah konflik, benturan antar manusia, dan kita sebagai manusia cenderung suka cerita konflik walaupun seringkali tidak suka terlibat dalam konflik itu sendiri. Hanya sebagai pengamat saja.

Mari kita mulai bedah saja foto kali ini. Foto ini diambil oleh Andi Brata berjudul Untitled.

Ada orang berambut panjang, membawa salib yang kebetulan sepertinya adalah nisan penanda kuburan, poster kampanye seorang politisi, seorang berpeci, sarungan berjalan jauh, kumpulan ibu dan anak2, becak dll.
Dari sisi studium, kita dapat mengira-ngira peristiwa yang mungkin terekam dan tempat pengambilan gambar.
Sedikit curang, penulis sempat berdiskusi dengan sang fotografer sehingga penulis tahu selain dengan melihat elemen foto dan menyimpulkan/mengira2 bahwasanya foto tersebut diambil di Malang, pada saat prosesi pemakaman.

Itu tadi makna tersurat/denotatif dari foto dilihat dari elemen fotonya, lalu kita sampai ke apa makna tersirat/konotatifnya?

Orang berambut panjang, gondrong, membawa salib seolah-olah dia menggambarkan Jesus yang menggotong salib menuju bukit Golgota. Lalu penulis melihat poster kampanye pemilihan Walikota.
Apa yang terbaca? Ini adalah salah satu interpretasi dari sekian banyak:

Nasib politisi muda, idealis, di negeri ini seringkali nasibnya sama seperti sang Mesiah, sang juru selamat harapan rakyat akhirnya mati disalib secara ideologi. Alih-alih membawa perubahan di negerinya, politisi muda ini akhirnya menyerah oleh sistem bobrok korup dan kadang malah ikut jadi sistem yang korup.
Bedanya dengan Sang Mesiah, bukannya jadi inspirator dia jadi demotivator. Melihat sikapnya yang menyerah dengan sistem maka pengikutnya jadi semakin apatis.
Sebuah partai yang dulunya mengaku bersih misalnya, tapi akhirnya bertekuk lutut terhadap status quo.
Alih-alih menjadi motor penggerak perubahan yang signifikan dia malah ikut arus.
Alih2 jadi pendobrak dia jadi politisi kebanyakan negeri ini.

Itu satu interpretasi, interpretasi lain penulis dapat baca dari berlawanannya arah muka antara pembawa salib dengan seorang bapak berpeci,sarungan.
Seolah mereka menceritakan dua agama besar di dunia ini yg sejarah benturannya tertoreh di lembar peradaban, tidak terkecuali di negeri ini.
Mari lihat kasus GKI Yasmin, HKBP Philadelphia, Masjid Batuplat Kupang, Tragedi Ambon.
Orang berambut panjang membawa salib memalingkan muka, orang berpeci dan bersarung pergi menjauh, sepertinya mereka tidak ingin saling bersama, bertatap muka sama seperti tragedi yang terjadi di negeri ini. Salib nisan itu turut memperkuat matinya kerukunan dan saling memahami antar dua agama itu pada kejadian-kejadian itu. Semua merasa paling benar, semua memalingkan muka tidak ingin bertatap muka.

Untuk saat ini, dua interpretasi tersebut yang dapat penulis baca dari foto itu. Tentu masih banyak interpretasi lain yang dapat dibaca.
Akhir kata, foto adalah sejarah, masa lalu, maka mari kita berharap kedepannya hal-hal apa yang penulis baca dari foto diatas yang kebetulan adalah kabar-kabar negatif segera menjadi tinggal sejarah usang, untuk selamanya.

#JKTtanpaorang #mblegadhus #mblakrak oleh Ichwan Susanto

12-10-2012 12-40-18 PM

Foto ini diambil oleh Ichwan Susanto

Sebenarnya tidak ada yang bisa penulis ceritakan banyak disini tapi menurut penulis foto ini ‘menggugah’, dalam artian foto ini secara spontan membuat otak penulis merasa ‘tergelitik’ saat pertama kali melihatnya dan mendorong penulis untuk, maaf, mengumpat secara otomatis. Spontanitas emosi yang ditimbulkan oleh foto ini lalu mendorong penulis untuk mencoba membagi kenapa foto ini bisa mempunyai, dalam vocabulary a la Barthesian, suatu punctum.

Foto ini mempunyai beberapa elemen yang bisa dilihat; Gambar grafitti orang menunduk, kumpulan karung dan plastik sampah berlatar tembok biru lalu tulisan graffiti ‘Berjilbab Agamis apa modis’

Mari lihat gambar orang menunduk terlebih dahulu, kepala menunduk tanpa terlihat wajah, ubun-ubun kepala digambarkan terlihat terkena seberkas cahaya dan dua tangan menutup muka.

Sekarang, mari berjalan ke bawah, ke satu karung plastik putih dengan kantung plastik hitam dan ditutup/ditahan batu. Perhatikan dua komponen gambar tersebut, lihat persamaannya? Kepala, badan lalu menuju ke kaki, bertemu batu, kantung plastik hitam dan karung putih. Lihat warnanya? Lihat pengulangannya?

Ubun-ubun dalam gambar berwarna abu-abu, lalu kepala berambut hitam yang bulat, lalu ke tangan yang terlipat, lalu badan serta dua kaki. Kesemuanya seolah mengalami pengulangan pada tumpukan batu, plastik dan karung. Pengulangannya pada batu abu-abu, kantung plastik hitam bulat, lipatan karung serta dua garis karung tersebut.

Interpretasi lain yang mungkin bisa langsung dilihat adalah orang itu menunduk di hadapan karung dan bungkus plastik yang nampaknya seperti sampah, lalu ada tulisan tersebut ‘Berjilbab Agamis apa modis’, seolah orang itu merasa tak berharap lagi terhadap tumpukan-tumpukan sampah atau juga terhadap fenomena mode yang memang nyata terjadi sekarang ini mengenai ‘pakaian takwa’ atau Jilbab. Saat ini, jilbab sudah mengalami, entah peyorasi atau ameliorasi, yang pasti pergeseran makna, dari pakaian penanda ketakwaan menjadi pernyataan mode.

Jilbab yang dahulu sederhana, selembar kain dilipat segitiga lalu sekarang, berkain-kain, tidak satu, dua bahkan tiga ditumpuk, dilibat dan dililit agar terkesan modis. Pertanyaannya, apakah cara itu agamis atau modis? Apakah modis selalu bertentangan dengan agamis? Tidak bisakah keduanya berjalan beriringan?

Bukan kapasitas penulis untuk menghakimi hal-hal tersebut namun menurut hemat penulis, kesan sederhana yang mana adalah nilai agamis menjadi kabur ketika digunakan lebih dari satu atau dua kain. Dan lagi, tujuan jilbab adalah untuk tidak ‘bersolek’ (menundukkan pandangan) sementara dengan kemodisannya jilbab tersebut malah membuat penggunanya bersolek dengan sangat mencolok. Bukan berarti bersolek tidak baik tapi kesan yang ditimbulkan malah ‘wagu’ dalam term bahasa Jawa. Mungkin lebih jelasnya penulis akan mengutip pernyataan seorang kawan untuk menerangkan maksud penulis: “Jadi malah kayak topi petani dikasih bunga”

Komponen-komponen yang tersebar di tiap sudut gambar, repetisi komponen secara abstrak dan  pesan yang mungkin tersirat dari foto ini yang menurut penulis layak diacungi jempol, terlepas sang pengambil gambar saat eksekusi di lapangan juga memikirkan buah-buah pikiran yang sama seperti penulis ketika melihat scene ini.

13/9/2011

Image

Foto ini diambil oleh sdr. Arif Furqan dan diunggah di fotografer.net dengan judul #FNstreet. Di sanalah untuk pertama kali saya melihat foto yang saya anggap mencengangkan ini. Foto ini tetap mencengangkan bahkan setelah saya melihatnya berulang kali.

Mari kita bedah foto ini bersama-sama. Foto, seperti layaknya medium penduplikasi realita, punya dua makna, yakni tersurat dan tersirat. Makna tersurat adalah elemen atau objek apa saja yang kelihatan pada gambar.

Pada foto di atas, kita bisa melihat teralis besi yang biasanya terdapat di pertokoan. Lalu di belakangnya, sebuah gambar atau potret. Foto dalam foto itu sendiri, sudah menarik buat saya. Dalam foto di balik teralis, tampak gambar perempuan berkerudung. Di belakang sang perempuan terlihat sebuah bangunan seperti menara.

Dari segi estetika, elemen dan komposisinya begitu sederhana. Penempatan satu elemen yang menjadi ‘tokoh utama cerita’ yaitu si perempuan berkerudung mengikuti kaidah ‘Rule of thirds’. Ini turut mendukung makna kedua, yaitu makna tersirat yang mau tak mau menyeruak dari foto ini.

Lalu apa makna yang tersirat dari foto ini. Makna yang bersifat kultural atau historis buat saya, adalah tentang isu agama dan kaitannya dengan perempuan sebagai subjek (atau objek lebih tepatnya?)

Saat membahas makna tersurat, saya telah menyebutkan elemen-elemen dalam foto, dengan urutan dari depan ke belakang. Dalam makna tersirat, saya coba membahas elemen-elemennya dari belakang ke depan.

Setidaknya ada dua makna tersirat yang bisa saya lihat dalam foto ini. Yang pertama, dari menara pada latar belakang foto perempuan, mirip dengan menara Masjidil Haram di Mekkah. Kota pusat agama Islam. Kerudung,mensimbolkan perintah agama. Disini perintah tentu saja tidak terbatas pada perintah berkerudung tapi semua perintah atau aturan yang ditujukan untuk perempuan sebagai tokoh didalam foto.

Dan “punctum” atau elemen yang menusuk pikiran saya dalam makna tersirat foto ini justru berada di bagian depan, yakni teralis besi. Benda ini menyimbolkan kungkungan, sebuah kerangkeng bagi sang perempuan.

Agama, sejatinya adalah petunjuk untuk membimbing umatnya dalam koridor kebaikan, kebaikan yang terkodefikasi menurut standard agama yang bersangkutan. Agama juga menuntut umatnya untuk taat, kadang tanpa tanya. Celakanya, ketaatan tanpa tanya ini sering dimanfaatkan untuk tujuan politis. Kaitannya dengan perempuan dalam masyarakat patriarkal, kaum prialah yang memegang kendali. Kerangkeng ini menyimbolkan masyarakat ‘kebapakan’ tersebut dan interpretasi agama oleh ‘penguasa’ untuk ‘mengendalikan’ perempuan.

Adalah benar bahwa perintah agama mengalami banyak interpretasi. Contohnya soal kerudung atau jilbab. Dari Kordoba, Afrika Utara, Jazirah Mesopotamia, Hindustan, hingga Asia, aplikasi kerudung punya banyak varian. Dari shayla yang relatif longgar (seperti yang dipakai perempuan dalam gambar) hingga Niqab atau Burka yang tertutup. Namun interpretasi-interpretasi ini ditentukan oleh ulama-ulama yang mayoritas pria. Padahal ia untuk kepentingan perempuan.

Disinilah ‘otorisasi’ teralis besi ditedengkan, tepat di muka sang perempuan. Kadang begitu keras bak besi sehingga pada negara atau tempat yang relatif ketat, perlu polisi susila yang mengatur perempuan bersikap.

Elemen-elemen foto yang kita bahas juga punya makna tersirat yang lain. Jika sebelumnya saya mengupasnya dari sisi interpretasi oleh pemimpin patriarkal, kali ini saya mencoba mengupas dari sisi perempuan sendiri.

Makna tersirat kedua yaitu simbolisasinya sebagai persepsi perempuan atas dirinya terhadap agama/perintah agama sebagai identitas, serta persepsi ‘pihak luar’.

Di dunia muslim kontemporer, salah satu isu yang mencuat adalah isu penempatan dirinya (positioning) dalam komunitas modern. Kaum muslimin saat ini dihadapkan dengan persoalan pencarian identitas. Siapakah dirinya dan bagaimana ia menempatkan diri di dunia modern ini? Bagaimana ia memandang tradisi Islamnya dalam dunia modern dan global? Isu ini makin menguat setelah peristiwa 11 September, sehingga foto ini juga turut menguat konteksnya untuk saat ini.

Tarik-menarik yang menjadi pergulatan dalam dunia kontemporer, sebagai pembuka atas interpretasi kedua dalam pembahasan ini. Memang benar isu pergulatan identitas ini diderita baik oleh laki-laki dan perempuan. Namun penderitaan lebih dirasai oleh perempuan, sebab atribut Islam begitu tampak di mata orang lain (disebabkan kewajibannya untuk berkerudung). Sementara busana tidak terlalu mengganggu untuk kaum laki.

Kaum laki bisa secara klandestin berbaur dengan masyarakat majemuk tanpa ada penempelan atribut berarti, kecuali mereka memang mengutarakannya. Sementara perempuan yang ‘taat’, mengalami hal ini. Di sini, perempuan muslim dihadapkan pada tarik-menarik antara tradisi berhijab, dan posisinya di masyarakat, serta bagaimana ia menyikapi dirinya.

Gambar perempuan berkerudung mensimbolkan identitas, tradisi. Kita sebagai penikmat foto berperan sebagai mata dunia, si ‘pihak luar’ yang memandang perempuan muslim di balik teralis besi perbedaan persepsi dan tradisi.

Pada interpretasi makna tersirat kedua ini, teralis besi menyimbolkan ‘tumbukan budaya’, perbedaan cara pandang dan tradisi. Si perempuan adalah tesis, pembaca adalah antitesis dan teralis besi sebagai sintesis.

Mata perempuan yang melihat langsung ke kita yang menontonnya juga seolah balik bertanya, “bagaimana kamu wahai penonton, melihat diriku dan identitasku di balik ini?”

Jadi, pada interpretasi makna tersirat pertama, teralis besi menyimbolkan otorisasi terhadap diri sang subjek/tokoh. Sedangkan pada interpretasi kedua, teralis disimbolkan sebagai sebuah sintesa atau dialektika, tarik-menarik (kalau saya boleh menyebutnya begitu) antara tokoh, tradisi, dan ‘penonton’. Sementara untuk elemen-elemen lain punya makna tetap. Tampaknya, baru dua interpretasi saja yang saya temukan atas foto sdr Arif Furqon tersebut.

 

Tulisan juga diikut sertakan dalam Lomba Apresiasi Foto : Gaji Pertama Award

9/9/2012

marysats

Foto ini diambil oleh Marrysa Tunjung Sari.

Di dalam foto terlihat seorang perempuan tertunduk yang tampaknya (mungkin) sedang sibuk dengan telepon genggamnya. Di belakangnya terdapat latar tembok berpintu dengan gambar seorang citra siluet perempuan seolah “menggantung”, sedang membawa tas yang tampaknya sekelompok tas belanjaan.

Dalam imajinasi penulis, postur yang digambarkan citra siluet hitam tersebut tampak seperti tergantung di tiang gantungan. Ada dua persepsi yang menari dalam otak. Citra siluet tersebut menunduk dengan tangannya menjuntai ke bawah, ke depan tubuh sambil memegangi tas belanjaannya, atau yang kedua; kepalannya mendongak tertarik ke atas sehingga badannya membusung dan tangannya menjuntai tertarik ke belakang. Apapun, kedua persepsi menampakkan bahwa citra siluet, “mati” di tiang gantungan, sudah tak bernyawa. Sementara di depan, perempuan yang masih hidup seolah tak acuh akan nasib perempuan di belakangnya.

Sementara tas belanjaan yang menjuntai di tubuh tak bernyawa mau tak mau membawa penulis ke konsumerisme yang menggejala di masyarakat. Suatu gaya hidup yg menganggap barang-barang (mewah) sbg ukuran kebahagiaan, kesenangan, dsb[1].

Konsumerisme itu telah menjerat citra perempuan di belakang, menjerat lehernya hingga mati, menggantung di tiang gantungan. Walau begitu, citra tersebut masih tak mau melepaskan kantung belanjaannya. Jerat yang mengerikan, karena ketika korban sudah tercekikpun atau bahkan sudah mencapai titik ajal, ia tetap tak mau melepaskan sesuatu yang malah membunuhnya.

Lebih gawatnya lagi, konsumerisme ini kadang tidak disadari oleh si korban sampai sudah terlambat. Hal itu yang terbaca di perempuan yang masih hidup. Ia tak sadar, tidak acuh, dia hanya memfokuskan diri ke sesuatu di tangannya hingga tak sadar temannya, sesama ‘citra’ perempuan, sudah mati terbunuh konsumerisme, bisa jadi, perempuan di depan itu, -mari kita doakan semoga tidak-, adalah korban berikut dari jeratan tas-tas belanja.

[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia daring